🌸 Sebuah refleksi tentang memilih dan kapan berhenti.
Cerita Bunga: Pencarian Tanpa Akhir
Seorang murid diminta oleh gurunya untuk memilih satu bunga terbaik di taman yang luas. Aturannya sederhana tapi sulit: ia hanya boleh berjalan maju, tidak boleh mundur, dan hanya boleh memilih satu bunga, sekali saja.
Murid itu berjalan, melihat satu demi satu bunga yang indah. Tapi setiap kali melihat satu yang bagus, ia ragu, "Mungkin di depan ada yang lebih baik." Ia terus berjalan, berharap bunga terbaik itu ada di ujung taman. Tapi sampai akhirnya taman itu habis, ia tidak memetik satu pun. Ia pulang dengan tangan kosong.
Cerita Sekretaris: Dilema Sang Perekrut
Di sebuah kantor, ada seorang manajer yang sedang mencari sekretaris terbaik. Ia menerima banyak lamaran, dan mewawancarai kandidat satu per satu, dalam urutan acak. Tapi ada satu aturan aneh: setelah setiap wawancara, ia harus langsung memutuskan, ambil sekarang, atau lepaskan selamanya. Ia tidak bisa mundur atau memanggil ulang.
Awalnya, ia menolak beberapa orang pertama. "Masih terlalu awal," pikirnya. "Mungkin ada yang lebih baik nanti." Tapi setelah beberapa kandidat terlewat, ia mulai ragu. Setiap pilihan baru terasa biasa saja, atau malah lebih buruk dari sebelumnya. Sampai akhirnya, semua kandidat habis, dan sang manajer tak memilih siapa pun.
Masalahnya bukan pada kurangnya pilihan, tapi pada dilema abadi antara eksplorasi, melihat sebanyak mungkin opsi sebelum memutuskan, dan eksploitasi, berani memilih dari apa yang sudah kita lihat.
Di Antara Dua Cerita
Waktu membaca cerita tentang bunga dan teori sekretaris terbaik, aku merasa keduanya berbicara tentang hal yang sama, dengan cara yang berbeda. Seperti dua cermin dari satu pertanyaan: kapan sebaiknya kita berhenti mencari, dan mulai memilih?
Dulu, aku pikir ini soal kurangnya keberanian untuk memutuskan. Tapi makin aku pikirkan, mungkin kita semua memang sedang ada di taman yang sama—terus berjalan, terus mengamati, tapi tak kunjung memetik apa pun.
Aturan 37%
Dalam dunia matematika, ada strategi yang disebut optimal stopping, cara paling logis untuk menentukan saat yang tepat berhenti mencari dan mulai memilih.
Tapi… Hidup Tak Selalu Se-logis Itu
Meski algoritma di cerita sekretaris terbaik keren di atas kertas, hidup sering lebih rumit dari soal matematika:
- Kita tak pernah tahu pasti berapa banyak "kandidat" dalam hidup kita, entah itu pilihan karir, teman atau peluang. (atau orang yang membuat kita merasa pulang, proyek yang bikin semangat bangun pagi, atau mimpi yang layak dikejar)
- Kadang, kita bisa kembali ke pilihan lama. Dunia tak selalu satu arah.
- Pilihan dalam hidup punya emosi, nilai, dan waktu. Bukan sekadar perbandingan angka.
- "Terbaik" itu subjektif dan bisa berubah seiring usia, pengalaman, dan prioritas.
Karena kadang, kita sendiri bingung kapan harus lanjut, kapan harus berhenti. Apakah aku terlalu cepat puas, atau terlalu lama menunda? Apakah aku melewatkan sesuatu yang baik karena berharap sesuatu yang sempurna?
Atau di momen yg lain, kita justru merasa bersyukur karena akhirnya berani memilih, meskipun itu bukan yang “sempurna”.
Mengejar Sempurna Bisa Berakhir dengan Nol
Kadang, kita terus maju karena takut menyesal. Tapi yang kita kejar hanyalah bayangan. Kita takut memilih karena selalu merasa "mungkin ada yang lebih baik nanti".
Padahal, kalau terus menunda tanpa tahu kapan berhenti, kita bisa berakhir tanpa apa-apa seperti murid yang keluar dari taman tanpa bunga, atau bos yang melewatkan semua kandidat terbaik.
Padahal, kadang “cukup baik” bukan berarti kalah. Ia bisa jadi pilihan paling rasional, pilihan yang kita buat dengan sadar, setelah melihat dan belajar.
Penutup: Mencoba Memilih Lebih Bijak
Ini bukan tulisan motivasi. Ini cuma catatan pribadi, tentang bunga, sekretaris, dan ketakutan untuk salah memilih.
Kalau iya, semoga tulisan ini bisa jadi jeda sejenak. Untuk menengok ke belakang, melihat ke depan, dan bertanya dalam hati: “Sudah cukup belum aku melihat? Sudah saatnya belum aku memilih?”
Karena mungkin, dalam hidup ini, memilih adalah satu-satunya cara untuk tidak kehilangan semuanya.