Saat Air Tak Lagi Menambah Isi Gelas

Bayangkan kamu sedang menuang air ke dalam gelas. Awalnya, setiap tetes terasa berarti. Gelas yang kosong mulai terisi, progres terasa nyata.
Tapi semakin penuh, air yang dituang justru mulai tumpah. Energi terbuang.
Terus menuang hanya berakhir pada air yang terbuang sia-sia.

Obrolan ringan bersama Fierre, yang awalnya cuma niat mencari topik santai di tengah kesibukan kerja, membawa kami pada satu kesadaran yang sama.
“Kerja keras itu nggak selalu sama dengan hasil,” katanya.
Dan kalimat itu langsung menempel di kepala. Kerja keras bukanlah ukuran terbaik. Karena setelah titik tertentu, kerja ekstra tidak lagi membawa perubahan besar.

Obrolan itu mengingatkanku pada satu prinsip lama: Law of Diminishing Returns, atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Hukum Penurunan Efektivitas.

Karena Lebih Tak Selalu Baik

Pernah nggak merasa, makin keras berusaha,baik dalam hubungan atau pekerjaan, hasilnya justru makin tak sebanding?

Kita hidup di tengah budaya “harus selalu lebih.”
Lebih sibuk, lebih perhatian, lebih cepat, lebih produktif.
Tapi seringkali kita lupa bahwa hidup tak bekerja seperti grafik yang terus menanjak.
Ada titik di mana “lebih” justru mulai kehilangan makna.

Seperti tanaman yang terlalu sering disiram, bukan tumbuh, malah layu.
Terlalu sering membantu orang bisa berubah dari kebaikan menjadi kewajiban. Tak lagi dihargai, justru jadi sesuatu yang dituntut diam-diam.
Dalam hubungan, perhatian yang terus-menerus bisa berubah jadi tekanan.

Hukum Penurunan Efektivitas

Hukum Penurunan Efektivitas menyatakan:
Semakin banyak usaha, waktu, atau sumber daya yang kamu curahkan ke suatu hal, maka setelah titik tertentu, hasil tambahannya akan semakin kecil. Bahkan bisa jadi, tidak ada hasil sama sekali.

Artinya, tidak semua peningkatan membawa hasil sepadan.
Dan pada titik tertentu, pertanyaannya bergeser:

“Masih sepadankah energi yang dikeluarkan dengan hasil yang didapat?”

Tumbuh Juga Butuh Tahu Kapan Berhenti

Pertumbuhan tak selalu soal menambah. Kadang, justru soal tahu kapan untuk:

Menepi.

Mundur satu langkah.

Atau bahkan berpindah arah.

Dan seperti kata Paulo Coelho:

“When you're brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello.”

Keberanian untuk berkata “cukup” bisa membuka ruang bagi sesuatu yang lebih baik. Saat kita berhenti dari hubungan yang tak seimbang, kita memberi ruang bagi respek dan saling jaga.

Ketika kita melepas kebiasaan yang menguras tanpa arah, kita membuka peluang untuk karya yang lebih berarti.

Berhenti bisa jadi bentuk penghormatan tertinggi pada diri sendiri:
Mengakui bahwa kamu punya batas, dan memilih untuk tidak membakar diri demi terus menyala.

Mungkin kita takut untuk berhenti.
Takut dinilai lemah. Takut dianggap menyerah. Takut kehilangan kesempatan.

Padahal, berhenti bukan selalu soal kegagalan.
Kadang itu tentang menjaga.
Kadang tentang tahu kapan cukup.

Saat air tak lagi menambah isi gelas,
Matahari terlalu terik, tanaman pun layu.
Api yang besar tak selalu membuat hangat,
Kadang hanya menyisakan abu yang tak kita harap.

Mungkin, tak semua harus terus ditambah.
Mungkin, cukup adalah ruang yang memberi napas.

Ok, dah kutulis ya fer.